Langkah Ini Tak Akan Berhenti


Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana program 6 bulan pertama Sekolah Inspirasi Pedalaman (SIP) Banjarnegara, akan ditutup.

Pertanyaan yang selalu mampir di pikiran saya adalah, “Apa yang telah saya berikan selama 6 bulan? Apakah sudah menjawab permasalahan pendidikan di sana? Apakah anak-anak mengalami perubahan ke arah yang positif? Atau malah anak-anak belum merasakan perubahan apapun?” Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bukan ditujukan untuk menghakimi orang lain, tapi lebih ditujukan untuk menampar diri sendiri agar terus berbuat baik.
Saya bukan seorang guru, saya bukan orang yang secara formal mempelajari tentang sistem pendidikan, saya hanyalah seorang korban dari pendidikan. Saya hanya seorang anak yang beruntung lahir di keluarga cukup mampu untuk bersekolah sampai ke perguruan tinggi. Bagaimana jika saya lahir di keluarga kurang mampu yang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kesusahan? Apakah saya bisa menempuh pendidikan sampai ke bangku kuliah? Mungkin nasib saya akan sama dengan anak-anak yang kurang beruntung itu, yang tak bisa meneruskan sekolah karena tidak ada biaya. Atau paling banter saya akan dititipkan di panti asuhan agar mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang layak, seperti puluhan anak asuh yang ada di panti tempat ibu saya bekerja.

Sebagai seorang yang beruntung ini kemudian saya ditawari untuk ikut mengajar di daerah yang sulit dijangkau di kota saya sendiri, Banjarnegara. Apa yang harus saya ajarkan? Bahkan untuk berinteraksi dengan anak-anak saja saya masih canggung. Beberapa kali diskusi dengan teman-teman pendiri SIP, akhirnya saya menyanggupi untuk ikut terjun langsung dengan segala konsekuensi yang harus saya terima. Menikmati setiap proses belajar untuk menjadi contoh yang baik di depan anak-anak. Saya tidak berharap anak-anak menganggap saya sebagai seorang guru, saya hanya ingin anak-anak senang bermain sambil belajar bersama saya.
Enam bulan program SIP tidak selalu berjalan lancar dan menyenangkan. Kegiatan sukarela semacam SIP sudah pasti mengalami berbagai dinamika, mulai dari semangat antar relawan yang naik turun, kondisi badan setiap relawan yang kurang fit karena terforsir, sampai debat panjang di grup whatsapp yang kadang tidak menemukan solusi. Jalanan terjal dan cuaca yang kurang mendukung kadang juga menjadi faktor penghambat kami untuk bergerak. Pernah mengeluh? Pasti. Pernah merasa sangat jenuh? Ya. Kenapa masih bertahan untuk ikut terjun di SIP? Karena ketika saya bepikir untuk berhenti melangkah, selalu saja ada teman-teman yang menularkan semangatnya. Ada bapak guru yang tulus mengajar anak-anak di desa setiap hari tanpa mengeluh.

Pantaskah saya yang hanya sebulan dua kali meluangkan waktu terjun ke desa, mengeluh dan berhenti bergerak? Ada anak-anak di desa yang berjalan kaki kurang lebih selama 1 jam untuk mencapai sekolah tempatnya menuntut ilmu. Pantaskah saya yang naik kendaraan bermotor, menyerah karena alasan jalan yang sulit ditempuh? Semangat dan langkah-langkah kecil mereka lah yang menguatkan jalan sepi dan terjal ini.
Kata seorang teman baik, seribu hari mengajar pun tak akan pernah cukup rasanya. Karena masalah pendidikan bukan hanya melulu tentang seberapa banyak bantuan buku-buku yang disalurkan ke sekolah-sekolah, masalah pendidikan bukan hanya tentang berapa banyak sekolah yang telah dibangun di desa-desa. Lebih dari itu, masalah pendidikan juga tentang seberapa banyak masyarakat yang secara sadar mau peduli pada anak-anak putus sekolah. Yah…mungkin bukan kapasitas saya untuk mengkritisi masalah pendidikan. Setidaknya saya ikut sedikit memberikan kontribusi di lingkungan tempat tinggal saya sendiri. Terimakasih SIP, telah memberikan kesempatan untuk sedikit berbuat baik. Terimakasih atas segala dinamika, jatuh bangun mengendarai sepeda motor mengalahkan bukit Sirante, dan segala lecet-lecet yang kita jalani bersama. Enam bulan selesainya program SIP bukanlah akhir dari perjuangan kita. Ini adalah langkah awal kita untuk terus bergerak, karena lebih baik menyalakan lilin, dari pada terus mengutuk kegelapan. Salam hormat untuk seluruh relawan SIP Banjarnegara. Kiki.

Leave a Comment