Hari Orientasi Project SIP Periode 2

Bagaimanapun keadaan pagi, matahari tak akan pernah lelah bersinar hingga batas waktunya. Setidaknya kalimat itu tepat untuk menggambarkan semangat relawan SIP di hari ahad, 9 oktober 2016 untuk melasanakan Hari Orientasi SIP (Sekolah Inspirasi Pedalaman) periode 2. Setelah sukses dengan periode 1 di MI Kalitengah, kali ini SIP melakukan project SIP periode 2 di MI Muhammadiyah Karanyanyar, Purwanegara, Banjarnegara. Dinginnya pagi, langit yang mendung serta gerimis menemani perjalanan relawan menuju lokasi.  Kami menempuh waktu 40 menit dari Banjarnegara kota. Kondisi jalan yang sedang diperbaiki, licin dan berbatu menjadikan kami harus lebih berhati-hati. Apalagi terdapat tanjakan serta turunan yang tajam nan berkelok sehingga memicu adrenalin kami. Terutama dalam 10 menit terakhir perjalanan.  Tiba dilokasi, kedatangan kami disambut hangat oleh anak-anak, guru dan para warga setempat yang turut menemani anaknya kesekolah.

Hari orientasi ini merupakan pertemuan perdana yang bertujuan untuk berta’aruf antara relawan dan anak-anak, serta mengenal lebih jauh tentang karakter masing-masing.

Acarapun dimulai, diatas bukit halaman sekolah. Putri Mahardika, pelajar MTs Muhammadiyah Merden membuka acara dengan memberikan siraman rohani kepada semua yang hadir pagi itu. Tak jauh dari kerumunan, berdiri sosok lelaki gagah dengan badan tegap. Pandangannya tajam, dengan senyum yang menandakan kebanggaan dan harapan akan masa depan anak-anak yang berkumpul di depannya. Beliau adalah Imam Khoirudin,  guru muda yang sangat peduli dengan pendidikan. Bersama beliau, project pertama SIP di MI Muhammadiyah Kalitengah berjalan dengan baik.

Usai siraman rohani, Kegiatan pun dimulai. Pertama-tama kami segenap relawan memperkenalkan diri, dipandu oleh Kak Anwar. Setelah perkenalan, dilanjutkan dengan pembelajaran di kelas yang berjalan kurang lebih satu jam. Pembelajaran kelas ini mengambil tema kelas juara. Kelas ini bertujuan untuk memberikan motivasi agar anak-anak memiliki semangat untuk menjadi juara, baik juara di kelas, di sekolah, maupun di luar sekolah. Dalam kelas itu di bagi dalam tiga kelompok, masing – masing kelompok di dampingi oleh relawan SIP Banjarnegara sebagai fasilitator. Adik-adik menunjukan antusiasme, semangat juara dan keceriaan yang luar biasa untuk mengikuti serangkaian kegiatan edukasi menyenangkan dari SIP.

Banyak keseruan atau cerita-cerita menarik yang terjadi disetiap kelas. Mereka luar biasa, jauh dari yang kami bayangkan bahwa mereka sangat berani dalam bermimpi, ada yang ingin menjadi presiden, dokter, tentara, guru dan lain sebagainya. Hanya saja mereka belum paham bagaimana tugas akan profesi yang mereka cita-citakan. Rayner Maulana, salah seorang siswa kelas 4 yang terbilang aktif mengatakan bahwa jarak dari rumahnya ke sekolah cukup jauh yakni dengan waktu tempuh 1 jam berjalan kaki menyusuri jalanan yang berbukit. Rayner adalah cerita kecil dari seluruh siswa. Beberapa siswa memang masih ada yang suka membolos bahkan lebih suka bermain dari pada pergi ke sekolah, tetapi saat SIP datang mereka begitu antusias mengikuti serangkaian acara kami. Oleh karena itu, kami selalu berusaha memberikan inspirasi dan motivasi agar semangat belajar selalu tertanam pada diri mereka, agar mereka berani bermimpi. Karena “Lokasi lahir boleh dimana saja , tetapi lokasi mimpi harus dilangit” begitu kata Pak Anis Baswedan selaku mantan menteri pendidikan.

antusiasme anak-anak di dalam kelas

 

Acara berakhir sekitar pukul 10.15 WIB. Kami kembali berkumpul di bukit halaman sekolah, dipandu oleh Kak Tia selaku koordinator SIP. Walau acara sudah di tutup, beberapa anak masih enggan pulang. Justru mereka meminta kegiatan untuk dilanjutkan. Nampaknya acara yang kami berikan berkesan dihati mereka. Tapi apa daya waktu jua yang harus memisahkan kami, setidaknya untuk hari ini. Esok kami akan datang kembali untuk melihat senyum dan semangat mereka. Bersamaan dengan pulangnya anak-anak, gerimis-pun turun, mengantarkan kepulangan mereka. Butiran air itu seakan cemburu ingin ikut bermain hanya saja hujan telat datang. Dan ini adalah hal yang bisa kita syukuri karena saat acara berlangsung langit masih menunjukan persahabatannya kepada kita.

Melihat mereka kita seakan bercermin, semangat mereka dalam mengejar mimpi jauh lebih besar dari semangat kami. Kami belum pernah merasakan perjuangan sekolah masa kanak-kanak seperti yang mereka rasakan. Bersekolah di sebuah desa pinggiran dengan jarak yang tidak bisa dikatakan dekat dan jalan yang berbukit. Keadaan sekolah mereka pun belum bisa dikatakan baik. Dinding yang sudah retak-retak dengan fasilitas belajar seadanya, ruang kelas yang sempit serta kurangnya ketersediaan buku-buku sebagai prasarana penunjang pendidikan tak lantas menjadi penurun semangat mereka dalam mengejar mimpi. Bahwa semangat mereka dalam mengejar mimpi adalah sebuah nyawa mahal yang mereka miliki. Tanpa adanya inspirasi mungkin mereka akan lebih memutuskan untuk tidak sekolah seperti halnya teman-teman mereka yang keluar dari sekolah dan sibuk bekerja membantu orang tua untuk menyambung nafas keluarga. Hari ini banyak warna yang disuguhkan oleh anak-anak yang bisa kita pelajari, semoga kedepannya SIP semakin lebih semangat dalam menebar inspirasi kepada anak-anak didaerah pedalaman layaknya matahari yang tak pernah bosan menyinari bumi.

 

(T.N.Ay)

Leave a Comment