#catatan_inspirator – Sebuah Perjalanan

 

Sebuah tanjakan panjang menanti di depan, beberapa ratus meter kukira panjangnya. Meski begitu, dengan sekali gas panjang, tanjakan itu mulus dilewati, dengan sedikit keringat dingin tentunya. Di sisi kanan kiri yang ada hanya warna cokelat dan cokelat. Sedikit saja pepohonan yang menaungi dari kejam kemarau yang sudah berbulan-bulan mendera. Dengan panas yang makin menjadi ini, siapapun tentunya akan berkali-kali meneguk air liur sendiri sambil membayangkan segelas es teh dingin di atas meja.

Tanjakan-tanjakan serupa menunggu selanjutnya. Sedikit berbeda, kali ini badan jalan tanjakan tak begitu lebar. Semakin tinggi dataran, badan tanjakan semakin menciut. Kali ini, dengan debu yang semakin menebal, sejengkal demi sejengkal jalan mulai terlewati, dengan bunyi parau motor yang makin menjadi. Sampailah kami akhirnya di sebuah sekolah kecil diujung bukit di sebelah selatan kota kecil, Banjarnegara.

Sekolah ini berada di sebuah pinggir punggungan bukit dengan jurang menganga di sisi kanannya. Hanya berbatas tembok, cukup riskan untuk menggantungkan sandaran pada tembok yang terlihat sudah retak disana-sini. Terdiri dari enam ruangan kelas dan dua buah ruang untuk gudang dan ruang guru, sekolah ini menjadi satu-satunya sandaran pendidikan bagi berpuluh-puluh anak di sekitaran bukit. Tertulis dengan gagah, di depan sekolah, MI Muhammadiyah Karangtengah.

Pagi itu, kami kembali bertemu dengan pak Imam, salah seorang guru dengan sejuta perjuangan yang luar biasa untuk sekolah ini. Ia menyambut kami dengan hangat, seperti minggu-minggu sebelumnya. Ini penerjunan minggu ketiga Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnegara. Sebuah usaha kecil dari sekelompok anak muda yang ingin melihat pendidikan di kota tercinta menjadi lebih baik. Sebuah langkah kecil dengan tujuan sederhana, menginspirasi. Berenam, kami bertugas untuk minggu ketiga. Menyimpansejuta rindu untuk kembali menatap mata-mata itu, berpasang-pasang mata-mata penuh kilau masa depan.

Anak-anak sudah menunggu rupanya, ada yang sambil menyapu kelas, ada yang sekedar duduk-duduk sambil bertegur sapa dengan yang lainnya. Melihat kami, beberapa dari mereka ada yang tersenyum, beberapa ada yang terlihat malu membalas salam yang kami ucap. Tak perlulah kami menceritakan detil apa yang kami lakukan di tempat yang menyimpan begitu banyak pembelajaran bagi kami ini. Kukira, beberapa teman yang lain sudah menuliskannya.

Pendidikan itu investasi sebuah peradaban. Sebuah hal yang akan menentukan seberapa sebuah negara akan terus berdiri. Melihat anak-anak ini, sejenak kami teringat Mahatma Gandhi, seorang tokoh filantropi asal India. Ia pernah berujar bahwa jika kita ingin menggapai kedamaian yang hakiki, mulailah dengan mendidik anak-anak. Di siang itu, disertai debu-debu itu, sambil melihat anak-anak itu, kami mengamini apa yang ia ucapkan. Dengan keterbatasan akses pendidikan, kami yakin, mereka masih memancarkan semangat mengejar cita-cita setinggi langit. Setidaknya itulah yang kami rasakan dalam derap langkah mereka untuk menuju sekolah guna mendapatkan pendidikan meski harus berjalan jauh dengan cuaca yang kadang tak bersahabat. Kami belajar banyak, kamilah yang sebetulnya terinspirasi akhirnya. Terima kasih teman kecil. Sampai jumpa minggu depan. (Yuhda)

Leave a Comment